Saint Monica Jakarta
Saint Monica Jakarta – Kasus tindak pelecehan terhadap si kecil di sebuah sekolah bertaraf internasional menimbulkan banyak tanya. Sekolah dengan kualitas dan fasilitas terbaik masih kecolongan terhadap tindak perilaku yang mengancam si kecil didik. Memasuki tahun ajaran baru, para orang tua juga merasakan waswas. Variasi sekolah seperti apa yang aman dan mensupport perkembangan sang si kecil.

Soal memilih sekolah sesungguhnya soal alternatif hati. Intinya, siswa dapat bersuka cita dan bersuka cita dengan sekolah yang ia tempati. Karena pada saat ini, bukan zamannya lagi belajar dengan tekanan, intervensi, atau cara-cara kekerasan. Inilah yang ditekankan betul oleh Prof Dr Seto Mulyadi.

“Tentu sekolah yang layak dengan cita-cita mereka. Seperti, sekolah yang ramah si kecil dan jauh dari kekerasan. Di samping itu juga, sekolah itu juga bersih dan rapi. Sekolah itu juga mengerti bagaimana perkembangan jiwa si kecil dan remaja,” ujar pria yang akrab disapa Kak Seto ini kepada Republika, pekan lalu. Kak Seto mengingatkan, dalam memberikan pelajaran tidak dibolehkan adanya faktor-faktor kekerasan. Justru, para guru dituntut bisa berdialog dan merangsang kreativitas siswa dengan cara yang menyenangkan.

Di samping itu, orang tua juga seharusnya bijak dalam membimbing buah hatinya memilih sekolah yang berkwalitas. “Sepatutnya ada dialog yang demokratis dengan si kecil-buah hatinya. Karena, usia SMP dan SMA itu mereka sudah remaja. Sudah tidak zamannya lagi dengan cara-cara otoriter,” ujarnya.

Para orang tua seharusnya memosisikan dirinya bukan lagi sebagai bos atau komandan, melainkan lebih sebagai sahabat. Menurut Kak Seto, alangkah pantasnya ketika orang tua berbincang-bincang bersama si kecil dengan diselingi humor dan canda, tapi tetap kondisional dan serius. “Istilahnya, ‘sersan’ serius, melainkan santai,” katanya.

“Sebetulnya, tergantung kepada programnya, bukan sekadar boarding-nya saja. Boarding, melainkan jikalau sekolahnya penuh dengan nuansa kekerasan, jikalau si kecil hanya diwujudkan sekadar robot-robot yang patuh, tentu ini tidak akan ada artinya,” ujar Kak Seto menambahkan.

 

Artikel Lainnya : Saint Monica Jakarta School

 

Continue Reading
Share: